Portal Resmi Berita dan Informasi Kampus Biru

Advertisement

Dosen ITB Riau Pesisir Berbagi Literasi Digital kepada Paskibraka Kota Dumai, Dorong Generasi Muda Cerdas dan Berintegritas di Ruang Siber

Dumai, 13-08-2026 — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut generasi muda tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kecakapan, etika, keamanan, dan tanggung jawab dalam memanfaatkannya. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Diklat dan Pelatihan Paskibraka Kota Dumai Tahun 2026, melalui sesi literasi digital yang menghadirkan dosen Institut Teknologi dan Bisnis Riau Pesisir (ITB Riau Pesisir), Ir. Mustazzihim Suhaidi, S.Kom., M.Kom., MTA, MCE, MCF, sebagai narasumber.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Dumai sebagai bagian dari rangkaian pembinaan Paskibraka Kota Dumai dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan surat permohonan narasumber dari Badan Kesbangpol Kota Dumai, kegiatan Diklat dan Pelatihan Paskibraka Tahun 2026 dilaksanakan di Ballroom Hotel Cititel, Dumai.

Dalam kesempatan tersebut, Mustazzihim Suhaidi menyampaikan materi bertajuk “Literasi Digital: Membangun Karakter Pemuda Kota Dumai yang Cerdas, Etis, Aman, dan Berintegritas di Ruang Siber.”

Materi tersebut diarahkan untuk memperluas pemahaman peserta Paskibraka mengenai tantangan dan peluang generasi muda di tengah transformasi digital. Literasi digital tidak hanya dipahami sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan membangun perilaku yang etis, menjaga keamanan data, memahami budaya digital, melakukan verifikasi informasi, serta memanfaatkan teknologi secara produktif.

Paskibraka Tidak Hanya Teladan di Lapangan

Dalam pemaparannya, Mustazzihim menekankan bahwa Paskibraka memiliki posisi strategis sebagai representasi generasi muda yang disiplin, berkarakter, dan memiliki semangat kebangsaan.

Menurut materi yang disampaikan, Paskibraka tidak hanya memiliki peran sebagai pengibar bendera dalam upacara kenegaraan, tetapi juga dapat menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk ketika beraktivitas di media sosial.

Di era digital, reputasi dan kehormatan seseorang tidak hanya terbentuk melalui interaksi langsung, tetapi juga melalui jejak digital yang ditinggalkan di internet. Karena itu, kedisiplinan yang dibangun melalui latihan Paskibraka perlu diterapkan pula dalam penggunaan teknologi dan media sosial.

Peserta diajak memahami bahwa tantangan generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik dan akademik, tetapi juga dengan kemampuan menghadapi banjir informasi, hoaks, kejahatan siber, ujaran kebencian, serta berbagai bentuk konten negatif di internet.

Empat Pilar Literasi Digital

Materi literasi digital yang diberikan mencakup berbagai aspek yang relevan dengan kehidupan generasi muda. Salah satu bagian utama adalah etika digital, yang menekankan pentingnya tata krama ketika berkomunikasi di media sosial, grup percakapan, maupun platform digital lainnya.

Peserta diberikan pemahaman mengenai prinsip think before you post, yaitu membiasakan diri berpikir sebelum mengunggah atau membagikan suatu informasi. Kesantunan berbahasa, penghormatan terhadap privasi, serta kehati-hatian dalam menyebarkan informasi menjadi bagian penting dari etika digital.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan konsep jejak digital. Setiap aktivitas di internet, baik berupa unggahan, komentar, foto, video, maupun aktivitas digital lainnya dapat menjadi bagian dari rekam jejak seseorang.

Karena itu, peserta Paskibraka didorong untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap aktivitas digital yang dilakukan, terutama karena reputasi digital dapat berpengaruh terhadap pendidikan, karier, maupun kehidupan profesional di masa depan.

Aspek berikutnya adalah budaya digital. Dalam materi tersebut, nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan ditempatkan sebagai landasan dalam berinteraksi di ruang digital. Peserta didorong untuk membangun ruang digital yang mencerminkan karakter bangsa yang ramah, santun, toleran, dan beradab.

Sementara pada aspek keamanan digital, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga data pribadi, mengenali modus penipuan digital, menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk ancaman siber.

Bekali Peserta dengan Keterampilan Cek Fakta dan AI

Literasi digital yang diberikan juga mencakup keterampilan digital, khususnya kemampuan mencari, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi.

Peserta diperkenalkan dengan teknik pencarian informasi yang lebih efektif serta pentingnya memeriksa sumber sebelum mempercayai maupun membagikan sebuah informasi. Materi juga menekankan pentingnya membandingkan informasi dari beberapa sumber dan memprioritaskan sumber resmi maupun media yang kredibel.

Kemampuan melakukan cek fakta menjadi semakin penting di tengah derasnya informasi yang beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan. Peserta diperkenalkan dengan beberapa pendekatan verifikasi, antara lain penelusuran sumber gambar, pemeriksaan situs resmi, serta penggunaan basis data pemeriksa fakta.
Tidak kalah penting, peserta juga mendapatkan wawasan mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara bijak. Teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, peningkatan produktivitas, dan pengembangan kreativitas.

Namun, penggunaan AI tetap harus disertai kemampuan berpikir kritis. Informasi yang dihasilkan AI perlu diverifikasi kembali, sementara penggunaan teknologi tersebut tidak semestinya menggantikan proses berpikir dan pembelajaran manusia.

Mendorong Paskibraka Menjadi Digital Ambassador Kota Dumai

Salah satu gagasan penting yang diangkat dalam kegiatan tersebut adalah mendorong anggota Paskibraka menjadi digital ambassador atau duta digital yang mampu menyebarkan konten positif dan memberikan pengaruh baik bagi lingkungan sekitarnya.

Paskibraka diarahkan untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan nilai Pancasila, persatuan, prestasi, edukasi, serta potensi daerah. Dengan demikian, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun citra positif generasi muda dan daerah.

Dalam konteks Kota Dumai, peserta juga didorong untuk ikut memperkenalkan potensi daerah melalui konten digital. Kekayaan budaya Melayu, pariwisata, kehidupan masyarakat pesisir, serta karakter Kota Dumai sebagai kota pelabuhan dan industri dapat dikemas menjadi konten kreatif yang edukatif dan inspiratif.

Peran Strategis Akademisi dalam Penguatan Literasi Digital

Keterlibatan Mustazzihim Suhaidi dalam kegiatan Diklat Paskibraka Kota Dumai sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi terhadap penguatan kapasitas generasi muda di luar lingkungan akademik.

Sebagai akademisi di bidang teknologi informasi dan saat ini dipercaya sebagai Ketua Program Studi Teknik Informatika ITB Riau Pesisir, Mustazzihim memiliki ruang keilmuan yang relevan untuk memberikan perspektif mengenai perkembangan teknologi, keamanan digital, kecakapan digital, serta pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.

Kehadiran akademisi dalam kegiatan pembinaan generasi muda menjadi bagian penting dari upaya membangun hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan masyarakat. Pengetahuan yang berkembang di lingkungan kampus dapat diterjemahkan menjadi wawasan praktis yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Membentuk Generasi Muda yang Cerdas, Etis, dan Aman

Pada bagian kepemimpinan digital, peserta diajak membangun personal branding yang positif melalui empat prinsip, yaitu keaslian, profesionalisme, konsistensi, dan dampak positif. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membentuk karakter anggota Paskibraka agar tetap menunjukkan integritas, baik ketika berada di lapangan maupun ketika beraktivitas di ruang digital.

Peserta juga diarahkan untuk memiliki komitmen menjaga kehormatan Paskibraka di media sosial, tidak menyebarkan informasi tanpa verifikasi, menolak ujaran kebencian, judi online, dan cyberbullying, serta melindungi data pribadi.

Pada penghujung materi, peserta diperkenalkan dengan konsep “Paskibraka Kota Dumai Cerdas Digital” sebagai bentuk komitmen untuk menjadi generasi yang tanggap terhadap ancaman siber, menjunjung etika dalam berkomunikasi, menjaga keamanan digital, serta membawa semangat Pancasila dan nama baik Kota Dumai dalam setiap aktivitas di ruang digital.

Melalui kegiatan tersebut, literasi digital ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi muda. Kemampuan menggunakan teknologi diharapkan berjalan beriringan dengan kecerdasan, etika, keamanan, integritas, dan semangat kebangsaan.

Bagi ITB Riau Pesisir, keterlibatan dosen dalam kegiatan pembinaan Paskibraka tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan pengetahuan dan kompetensi akademik untuk menjawab tantangan masyarakat di tengah transformasi digital.

Dengan semakin luasnya penggunaan teknologi di kalangan generasi muda, penguatan literasi digital menjadi investasi penting untuk melahirkan generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi secara cerdas, aman, etis, produktif, dan bertanggung jawab.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *